NIAS.WAHANANEWS.CO, Nias Utara, Pantai Pasir Berbunyi atau Gawu Sifakiki (bahasa Nias) yang terletak di Desa Sifahandro, Kecamatan Sawo, Kabupaten Nias Utara, sebelum pandemi Covid-19 sempat menjadi salah satu primadona objek wisata yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan.
Namun, saat ini kondisinya telah berbeda jauh, pengunjung yang datang tidak seramai dahulu bahkan sepi. Akibatnya, destinasi wisata yang dulunya ramai karena keunikan alamnya tidak terawat, yang terdengar hanya deburan ombak saling bersahutan.
Baca Juga:
Perjalanan Kelompok Singa di Namibia Terpaksa Tinggalkan Gurun dan Berburu di Pantai
Salah seorang tokoh masyarakat setempat, Rustam Harefa alias Ama Zirasi, saat ditemui WAHANANEWS.CO di kediamannya, Senin (20/7/2026) mengungkapkan bahwa pasca gempa yang melanda Kepulauan Nias, Pantai Pasir Berbunyi menjadi salah satu destinasi favorit.
Setiap Minggu pengunjung berdatangan dari berbagai desa, kecamatan, hingga dari luar Kabupaten Nias Utara seperti Kota Gunungsitoli, Nias, Nias Barat bahkan Nias Selatan. Ia mengatakan, penamaan Pantai Pasir Berbunyi bukan tanpa alasan.
"Jika pasirnya digesek dengan sandal atau sepatu saat cuaca panas terik, akan terdengar suara berdecit. Tapi suara itu hilang jika pasir terkena air laut atau hujan," sebut Rustam.
Baca Juga:
Kapal Karam di Pantai Malabero Bengkulu, Tujuh Orang Meninggal Dunia
Pesona Luntur, Pengunjung Sepi
Selain fenomena pasir berbunyi, salah satu yang memikat hati para pengunjung di pantai kala itu karena suasana aman dan nyaman, aneka kuliner dari warga, barisan pohon cemara sebagai spot foto, serta air laut yang jernih.
Tak hanya itu, hamparan pasirnya yang luas juga kerap digunakan menjadi lapangan sepak bola untuk pertandingan antar pemuda setempat.
Akan tetapi sejak awal 2020, jumlah pengunjung anjlok. Pandemi Covid-19 menjadi titik awal sepinya pantai. Situasi pun semakin buruk dengan sering terjadi keributan dan perkelahian di area wisata itu. Hal ini dipicu adanya oknum pedagang dari desa tetangga yang menjual minuman beralkohol.
"Warga dan wisatawan jadi takut datang, belum lagi pembangunan fasilitas terhambat karena keterbatasan lahan dan tidak adanya izin dari beberapa pihak," kata Rustam.
Ia mengatakan saat ini akses menuju pantai hanya dapat dilalui kendaraan roda dua.
"Jalan masuk dipenuhi semak dan dahan pohon. Deretan warung yang dulu menghidupi warga setempat kini tutup," bebernya.
Pemerintah Diminta Hadir
Rustam pun berharap Pemkab Nias Utara, khususnya Dinas Pariwisata, segera turun tangan menyelamatkan nasib Gawu Sifakiki.
Menurutnya, mengandalkan gotong royong masyarakat untuk membangkitkan kembali objek wisata Pantai Pasir Berbunyi tidak akan cukup. Dibutuhkan perhatian dan solusi nyata dari pemerintah.
"Jika ramai lagi, ekonomi warga bisa hidup kembali melalui usaha warung di sekitar pantai," katanya.
Ia pun memberikan contoh akan kemajuan pariwisata di daerah lain. Semestinya pemerintah memberikan keseriusan dan masyarakat juga memberikan dukungan.
"Kenapa wisata di kabupaten lain bisa maju? Kalau mereka bisa, kita juga harus bisa lebih baik," tambahnya. [CKZ]