Selain itu, dia juga menyoroti dampak penggunaan media sosial yang berlebihan terhadap kesehatan psikologis anak, seperti meningkatnya risiko kecemasan, stres, hingga depresi.
"Kita mengharapkan pepada para guru agar terus memberikan pendampingan dan pembinaan kepada peserta didik dalam membangun budaya digital yang sehat," harapnya.
Baca Juga:
Mentan Amran Sebut Hilirisasi Komoditas Sawit Cs, Dongkrak Ekonomi RI Hingga Rp35.000 Triliun
Menurut Pitha kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan digital yang aman, positif, dan ramah anak.
"Melalui sinergi tersebut diharapkan anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara digital, berkarakter, serta mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat," ucapnya.
Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi sosialisasi oleh Kepala Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (P3A) Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Gunungsitoli, Betty Novriani Waruwu.
Baca Juga:
Merasa Dicemarkan, Pensiunan TNI Laporkan Pemilik Akun Faceebook
Adapun materi yang disampaikan mencakup pemanfaatan media sosial secara bijak, keamanan digital, perlindungan data pribadi, serta langkah-langkah pencegahan terhadap berbagai bentuk kejahatan dan perundungan di dunia maya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang diikuti dengan antusias para peserta didik. Sebagai bentuk apresiasi, panitia juga menyerahkan bingkisan kepada peserta sebelum kegiatan ditutup. [CKZ]