Akan tetapi sejak awal 2020, jumlah pengunjung anjlok. Pandemi Covid-19 menjadi titik awal sepinya pantai. Situasi pun semakin buruk dengan sering terjadi keributan dan perkelahian di area wisata itu. Hal ini dipicu adanya oknum pedagang dari desa tetangga yang menjual minuman beralkohol.
"Warga dan wisatawan jadi takut datang, belum lagi pembangunan fasilitas terhambat karena keterbatasan lahan dan tidak adanya izin dari beberapa pihak," kata Rustam.
Baca Juga:
Perjalanan Kelompok Singa di Namibia Terpaksa Tinggalkan Gurun dan Berburu di Pantai
Ia mengatakan saat ini akses menuju pantai hanya dapat dilalui kendaraan roda dua.
"Jalan masuk dipenuhi semak dan dahan pohon. Deretan warung yang dulu menghidupi warga setempat kini tutup," bebernya.
Pemerintah Diminta Hadir
Baca Juga:
Kapal Karam di Pantai Malabero Bengkulu, Tujuh Orang Meninggal Dunia
Rustam pun berharap Pemkab Nias Utara, khususnya Dinas Pariwisata, segera turun tangan menyelamatkan nasib Gawu Sifakiki.
Menurutnya, mengandalkan gotong royong masyarakat untuk membangkitkan kembali objek wisata Pantai Pasir Berbunyi tidak akan cukup. Dibutuhkan perhatian dan solusi nyata dari pemerintah.
"Jika ramai lagi, ekonomi warga bisa hidup kembali melalui usaha warung di sekitar pantai," katanya.