Agar tulisan dapat memenuhi target ‘menarik, bermanfaat, dan unik', di saat menulis, anggap kita sedang ngobrol dengan pembaca. Buatlah seolah-olah sedang berdialog dengan mereka.
Setelah draf tulisan bergaya ‘ngobrol’ selesai, bila memungkinkan, berikan pada satu atau dua orang terdekat untuk diminta tanggapannya sebagai bahan penyempurna tulisan.
Baca Juga:
Aktivis Mahasiswa Labuhanbatu: Audit BPK Jadi Rujukan Tunggal APH Dalam Menetapkan Kerugian Negara
2. Menentukan media
Penting untuk menentukan di media mana tulisan ilmiah populer itu akan ditayangkan nantinya. Apakah akan di majalah ilmiah populer, website resmi kantor/institusi, media online, ataukah blog pribadi hingga facebook dan instagram.
Pilihan media mengakibatkan perlunya melihat ketentuan penulisan di media tujuan, karena tiap media memiliki ketentuan dan kriteria tersendiri dalam penayangan artikel, kecuali media (sosial) milik sendiri.
Baca Juga:
Seorang Aktivis Labuhanbatu Diduga Meninggal Dunia di KTV Jalan Baru : Tubuh Kaku
3. Meminimalkan istilah ilmiah
Unsur utama yang membedakan tulisan ilmiah dengan ilmiah populer adalah bahasa yang digunakan. Ilmiah populer benar-benar menghilangkan penggunaan istilah ilmiah, dan menggantinya dengan istilah umum, mudah dimengerti, dan variatif.
Kendati demikian, penulisan ilmiah populer tetap harus memperhatikan kaidah sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dan kata-kata baku dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (PUEBI/KBBI).