Ketika seorang pejabat publik terjebak dalam lingkaran hitam narkoba, legitimasi moralnya runtuh seketika. Bagaimana mungkin seorang legislator dapat merumuskan kebijakan daerah, menyusun anggaran publik, atau mengawasi jalannya pemerintahan jika kesadarannya sendiri telah digadaikan kepada zat adiktif?
Di tengah masyarakat, tindakan ini dicap sangat tidak terpuji dan memicu keprihatinan yang mendalam. Pejabat publik adalah figur percontohan (role model). Ketika seorang tokoh penting di daerah dengan mudahnya terlibat dalam penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu, dampak destruktifnya akan menjalar langsung ke mentalitas generasi penerus bangsa.
Baca Juga:
Pria di OKU Selatan Aniaya Ibu dan Adik Kandung, Istri Ikut Terlibat
Kita sedang menghadapi ancaman riil bonus demografi yang terancam gagal akibat paparan narkoba. Anak-anak muda, khususnya di Nias Barat, disuguhi contoh moral yang rusak dari pucuk pimpinan mereka sendiri. Jika para penegak hukum dan pembuat kebijakan justru menjadi konsumen barang haram, ke mana lagi generasi muda harus mencari kompas moral?
Menatap Masa Depan: akankah Negara Semakin Rusak?
Pertanyaan krusial yang mengemuka hari ini adalah bagaimana masa depan daerah dan bangsa ini jika oknum-oknum anggota DPRD terus-terusan mengonsumsi narkoba jenis sabu? Jawabannya sudah pasti mengarah pada satu titik: kerusakan total institusi negara.
Baca Juga:
Skandal Sekda Labuhanbatu Memanas: Pemkab Mangkir, DPRD Rapat Internal
Narkoba merusak kemampuan kognitif, mengikis empati, dan memicu perilaku koruptif. Biaya konsumsi sabu yang mahal tidak jarang mendorong penggunanya untuk mencari sumber dana ilegal.
Bagi seorang pejabat, godaan terbesar adalah menyalahgunakan kekuasaan atau menyelewengkan uang rakyat demi memuaskan ketergantungan tersebut.
Jika kecanduan ini dibiarkan membusuk di dalam tubuh parlemen, maka produk kebijakan yang dihasilkan pun akan cacat, tidak lagi berpihak pada rakyat, dan berujung pada kehancuran tata kelola pemerintahan. Negara tidak akan pernah maju jika dipimpin oleh orang-orang yang akal sehatnya terpenjara oleh narkotika.